Total Kemacetan

Jumat, 17 Januari 2020

Mengunjungi Little Amsterdam

Tanggal 11 januari 2020, kami sekeluarga akhirnya mengunjungi kota Semarang yang di juluki little Amsterdam karena bangunan tua nya yang terbilang masih banyak dan utuh. Apalagi di bawah pemerintahan walikota sekarang yang sangat peduli terhadap peninggalan sejarah. Kota lama di benahi dan gedung tua di pugar. Yang saya dengar dari percakapan warga, walikota memberikan dua pilihan pada pemilik gedung : memugar sendiri atau kalau tidak sanggup, menjualnya kepada pemkot.

Cita-cita ke kota ini sudah di rencanakan jauh hari sekira dua tahun yang lalu (lama banget kan). Karena, kami selalu terbentur dengan budget :D. Berdasarkan alasan tersebut juga kami memilih menggunakan kereta api dengan harga yang paling murah, K.A Ciremai kelas bisnis dengan jadwal keberangkatan pagi.  Kami berangkat dari stasiun Bandung pukul 8.10. Kenapa memilih pagi? karena, pemandangan yang kami lewati selama dalam perjalanan adalah hal terbaik yang tak boleh di lewatkan.

Kami berangkat berlima, dua orang dewasa dan 3 orang anak. Anak yang berusia 7 tahun dan 11 tahun masing-masing membawa tas yang berisi pakaian mereka, cemilan, dan jas hujan. Sedangkan yang paling kecil masih bebas tugas. Jas hujan untuk antisipasi karena kami berangkat saat musim hujan. Ini semacam backpacker ala-ala.


Tiba di Stasiun Tawang, kalau tidak salah pukul 16. 20, melebihi jadwal yang di tentukan karena ada perbaikan lokomotif di stasiun Cirebon.

Sekedar informasi, setiap pemberhentian kereta di stasiun tertentu, kami selalu di sambut dengan alunan musik khas daerahnya masing-masing. Untuk saya pribadi, itu sangat mengesankan. Bravo untuk PT. KAI yang terus meningkatkan pelayanannya !

Setelah menunaikan shalat ashar  kami menuju hotel dengan berjalan kaki karena jaraknya relatif dekat , kurang lebih 800m. Dari stasiun berjalan ke arah barat, kemudian belok ke arah kiri ke jl. garuda, jl. merpati sampai tiba di jembatan mberok. Dilanjutkan menyebrang ke arah jalan pemuda.

Kami menginap di New Metro Hotel yang pelayanannya sangat memuaskan selain letak hotel yang strategis. Hotel dekat dengan kota lama, toko oen, lunpia mbak lien, dan pasar Johar. Katanya ke pasar Semawis juga dekat, tapi kami tidak sempat kesana karena waktu yang tidak memungkinkan.


Tempat yang kami kunjung selama di Semarang adalah kota lama, San poo Kong, museum Mandala, Lawang Sewu, pantai Marina, dan Jl. Pandanaran sebagai pusat oleh-oleh.

Untuk pantai Marina, sepertinya perlu pengelolaan yang baik terutama masalah sampah. Sambil mengawasi anak-anak bermain, suami memunguti sampah yang masuk ke laut dan yang berserakan di tepi pantai. Dalam hitungan menit sampah terkumpul sekantung keresek penuh. Dan, semuanya plastik. Ini sangat menyedihkan. Indonesia adalah negara yang indah, tapi kesadaran untuk membuang sampah tidak sembarangan masih minim.



Untuk oleh-oleh, wingko babat pak Moel di rekomendasikan. Saya membeli di tempatnya langsung. Di sana juga tersedia pilihan oleh-oleh lainnya, seperti lunpia, bandeng presto, dll. Untuk lokasi tepatnya saya kurang faham, yang saya ingat dekat dengan jalan Pandanaran karena saya ke sana hanya kebetulan saja, sedang jalan kaki dan melihat plang wingko babat pak Moel.


Sempat juga kami naik bis keliling Semarang si kenang, yang titik kumpulnya berada di museum Ranggawarsita. Dari hotel ke museum menggunakan grab, tiba jam 7 lebih dan kebagian tiket terakhir jam 15.00 dengan sisa tempat duduk 5 kursi. Kami masih beruntung mendapatkan tiketnya. Jadwal bis ada 3 sesi, loket tiket di buka dari jam 6 pagi dan antrian sudah banyak dari jam 5.30 (kata petugasnya). Naik bis keliling ini gratis hanya meninggalkan KTP saja. Nanti, setelah selesai berkeliling, KTP di kembalikan.

Perjalanan selama 3 hari ini rasanya tidak cukup buat kami. Anak-anak pun sangat senang dan ingin kembali ke kota Semarang. Mudah-mudahan ....

Kamis, 18 Oktober 2018

Cocoklogi

Aliran cocoklogi terlahir ketika ketidakseimbangan hasil dengan harapan.

Contohnya seperti ini, ketika saya menanam rumput dan mengharapkan tumbuh cabe, yang tumbuh tomat dan tumbuh disaat harga tomat sedang murah-murahnya.

Nah, disaat itu marahlah saya. Tentunya, yang pertama saya salahkan adalah tomatnya, kenapa bisa-bisanya tumbuh di situ padahal saya sudah koar-koar ke tetangga nanti ada cabe di sini.

Kemudian saya mengira-ngira kenapa si tomat bisa tumbuh, pasti ini adalah konspirasi, akal bulus, si tomat pasti telah mengganggu pertumbuhan cabe. Atau jangan-jangan tetangga yang menukarkan.

Ya, betul bisa jadi tetangga! Sejak itu, mulailah saya mencurigai tetangga dan sekitarnya.Dan, ketika pohon tomat berbuah, tambah marahlah saya karena benar-benar unexpected, satu kata "hancurkan" ! karena memelihara tomat tidak menjadikan horang kaya! tapi saat saya mencicipi  buah tomat yang ranum, dan sebagian saya buat sambal, tidak dapat saya pungkiri rasanya sangat lezat. Tapi, mana mungkin saya mengakuinya terang-terangan, malu dong. Jadi saya menggunakan lagi aliran cocoklogi, bahwa sebenarnya saya telah ditipu. Ini bukan buah tomat, tapi cerry.

Sekian dan terima kembali.

#edisingacapruk
#AmpunisayaTuhan

Kamis, 19 April 2018

Postingan Facebook (dokumentasi)

Sore tadi, anak saya yang paling kecil (usia 2 tahun 8 bln) jatuh di jalan depan rumah. Dan dari jarak sekitar 50 meter terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari segerombolan anak usia SD mentertawakan anak saya.
Kontan saya kaget. Melihat orang celaka mereka malah bahagia. Marahlah saya. Saya tatap mereka satu persatu (dari kejauhan) tapi tak sedikit pun rasa bersalah. Akhirnya keluarlah kata-kata "kalian di sekolah tidak diajarkan adab?". 
Miris, dalam benak saya. Di saat orang dewasa saling melempar kebencian di dunia maya(sosmed) dengan saling memaki karena masalah sepele, di dunia nyata anak-anak sudah tidak peka terhadap sekitarnya, sedikit sekali rasa empati apalagi simpati.
Kemudian saya berfikir, mungkin sekarang adalah era dimana membenci diajarkan sejak dini (feb 8,2018)

---------------------------------------

Kejadian hari ini yang sedikit menyita pikiran.Dua anak tetangga bertengkar hebat, laki-laki, anak SD . Yang satu menggunakan mulutnya(setajam silet...kaya di TV ) yang satu menggunakan sapu bambu. Jadi,setiap si mulut tajam menyinggung maka sapu akan mendarat di badannya. Dan, saat saya menuju TKP tidak ada satupun yang berusaha melerai padahal banyak orang dewasa di sana. Mereka lebih memilih pura-pura tidak tahu dan membiarkan. Jadilah saya pahlawan gak jelas, melerai, dan berusaha menenangkan. Tapi, tidak ada satupun yang mengalah dan akhirnya saya bimbing salah satu(si mulut silet) untuk pulang ke rumahnya.
Yang membuat saya tertegun, apakah kondisi anak-anak dan juga orang dewasa saat ini sudah tidak perduli dengan orang lain sehingga tidak ada rasa peka sama sekali. Bagaimana seandainya hal tersebut menimpa anaknya,saudaranya?
Kemudian apakah yang di pelajari anak-anak sekarang di sekolah, apakah yang diajarkan di rumah sehingga mudah sekali menyakiti temannya baik lisan maupun perbuatan? (April 7, 2016)

---------------------------------------------
Bahagia itu adalah saat melihat anak selalu bersemangat sekolah, pun ketika sakit. Energi positif tersebut sempat membuat saya terpana untuk beberapa lama. Karena, di sekolah sebelumnya bukan semangat yang diperoleh, tapi kemalasan yang luar biasa yang membuat saya harus berdamai dengan rasa kesal.
Sekolah ini sebetulnya sudah saya incar dari awal karena membawa branding "ramah anak", tapi karena faktor jarak dan lainnya terpaksa harus di coret dari daftar. Tapi, memang sudah jodoh tetap saja akhirnya saya menyekolahkan anak saya kesana .
Yang saya suka dari sekolah ini adalah karena menghargai proses belajar anak, akademis maupun sosial. Hal tersebut membuat anak merasa nyaman di sekolah dan tidak merasakan kejenuhan.
#zaidaneducare#SekolahRamahAnak (dec 20, 2015)
---------------------------------------------------

Bertemu dengan teman lama menambah keyakinan saya bahwa orang yang di sebut pintar bukan hanya ranking 1 atau yang jago matematika saja, kecerdasan seseorang tidak bisa di ukur hanya dalam satu sisi karena orang pintar hanya minum tolak angin #eh #abaikan  (oct 1, 2014)

-------------------------------------------------
Terjadi percakapan dengan seorang ibu yg memiliki anak kelas 1 SD saat dia berkunjung ke garage sale yg saya gelar. Inti dari ucapan ibu tersebut adalah sekolah TK itu tidak ada manfaatnya sama sekali, karena tidak di ajari apapun, jadi lebih baik anak di suruh les calistung dan les menggambar. Sebagai buktinya, anaknya telah memenangkan lomba berhitung sekabupaten.
Ucapan ibu tersebut membuat saya mengernyit karena saya sama sekali tidak sepaham dengannya. Pantas saja banyak generasi muda yg berani pada orang tua, egois, dll karena sejak dini bukan etika,akhlak, ataupun kepedulian thd lingkungan yang di tanamkan tapi anak-anak diajarkan untuk sibuk mengenal angka dan tulisan. (May 13, 2014)

-----------------------------------------------------

Pada dasarnya anak itu memiliki kecerdasan beragam. Menyamakan anak dengan membuat sebuah standar pendidikan yang sama dan seragam adalah sebuah pengabaian terhadap keragaman anak. Bahkan bukan hanya pengabaian, penyeragaman standar itu bukan hanya membuat anak tak berkembang, tetapi dapat membuat potensi mereka mati.
Ada anak yang cerdas fisik, tetapi dijuluki anak nakal di kelas karena tidak bisa duduk tenang. Ada anak yang cerdas interpersonal yang senang ngobrol/bergaul, tetapi dinilai berisik dan mengganggu. Ada anak yang senang belajar dengan praktek dan dinilai bodoh karena tidak bisa belajar dengan cara membaca teori. Itu hanya sebagian contoh dari keragaman anak yang sering diabaikan dan “dilabeli bermasalah” di dalam model pendidikan yang mengagungkan standar dan keseragaman. (jan 15, 2014)

Selasa, 26 September 2017

Kartun...oh...Kartun

Dari dulu saya sangat suka sekali nonton film kartun, sampai (alm) Bapak  saya pernah protes karena di usia saya yang bukan ABG lagi masih tetep nongkrongin kartun. Mungkin, beliau merasa risih karena terlihat kekanak-kanakan, saya sih cuma terkekeh saja. Sempat beliau ikut nonton karena melihat saya tertawa terbahak-bahak kemudian komentarnya, teu ramé gening!

Sampai sekarang pun kalau disuruh memilih maka saya akan pilih film kartun untuk di tonton, tapi tidak semua kartun dilahap. Kalau ceritanya tidak menarik bukan menjadi pilihan.

Film kartun yang sangat saya sukai dan di tonton terus meskipun berulang adalah:

1. Donald Bebek
Ini kartun legendaris banget deh. Nontonnya gak pernah bosen. Sekarang, kalau nonton film ini bareng anak saya :D. Komiknya pun saya suka baca malahan dulu jaman kuliah suka menyempat-nyempatkan mampir di tukang buku bekas untuk beli komiknya (sungguh kurang modal sekali...).
Donald adalah karakter favorit saya. Donald itu tidak selalu beruntung tapi memiliki hati yang baik meskipun terkadang jahil dan bawel.

2. Rurouni Kenshin
Waktu film layar lebarnya keluar, langsung deh request suami buat cariin filmnya. Pokoknya satu kata, "keren!", aktornya cakep (ini yang penting #plak), settingnya ok banget, dan ceritanya sesuai dengan komiknya. 
Dulu, saking sukanya sama karakter Himura Kenshin, pernah dikasih kado wallpaper segede gaban (gak tau kemana sekarang).



Rurouni Kenshin (2012 film) poster.jpgHasil gambar untuk rurouni kenshin


3. Film Produksi Studio Ghibli
Pertama kali kenal dengan film studio Ghibli adalah dari sang mantan. Agak heran juga kenapa dia bisa tahu kalau saya gemar nonton kartun. Selidik punya selidik ternyata dia juga sama ...hahaha.
Pendapat pribadi saya, film keluaran Ghibli semuanya apik. Ceritanya gak pasaran, gambarnya sangat detail, dan soundtrack nya top bgt (Joe Hisaishi tea atuh...).

Film favorit saya di studio ghibli adalah Howl Moving Castle.
Howl dikutuk seorang penyihir yang patah hati padanya dan yang berhasil membebaskan kutukannya adalah gadis biasa bernama Sophie yang saat itu dalam keadaan dikutuk menjadi tua oleh penyihir yang sama dengan howl.

Hasil gambar untuk howl moving castle

Daftar film keluaran studio Ghibli (sumber : wikipedia)
  • Ocean Waves (1993)
  • Pom Poko (1994)
  • Whisper of the Heart (1995)
  • On Your Mark (1995) (video klip)
  • Princess Mononoke (1997)
  • My Neighbors the Yamadas (1999)
  • Shiki-Jitsu (2000) (di bawah divisi live action Studio Kajino)
  • Spirited Away (2001)
  • The Cat Returns (2002) (sekuel kepada Whisper of the Heart)
  • Ghiblies Episode 2 (2002) (ditayangkan pada saat yang bersamaan dengan The Cat Returns)
  • Innocence: Ghost in the Shell (2004) (diproduksi bersama dengan Production I.G.)
  • Howl's Moving Castle (2004)
  • Tales from Earthsea (2006)
  • Ponyo on the Cliff by the Sea (2008)
  • The Secret World Of Arrietty (2010)
  • From Up On Poppy Hill (2011)
  • The Wind Is Rising (2013)
  • The Tale of the Princess Kaguya (2013)
  • When Marnie Was There (2014)


4. One Piece
Nah, kalau yang ini baru sekarang di tonton sampai ratusan episode (terakhir season : yonko saga). Favorit karakter  dari film ini adalah Roronoa zoro & Trafalgar Law.
Berkisah tentang  bajak laut yang bernama "Straw hats pirate" yang setiap anggotanya memiliki cita-cita dalam perjalanannya dalam mengarungi samudera.
Kenapa suka sama serial ini? karena alur ceritanya jelas dan prinsip persahabatan yang dijalin benar-benar bikin terharu.
Hasil gambar untuk roronoa zoroHasil gambar untuk trafalgar law

5. Detektif Conan
Anak SMU yang berubah jadi anak kecil gara-gara di beri obat oleh kelompok organisasi hitam. Berusaha mencari tahu tentang organisasi tersebut dengan naluri detektifnya. 

sumber gambar : google

Minggu, 26 Februari 2017

Benci Tak Berujung

Benci, satu kata yang tak asing tapi efeknya dahsyat. Dengan menyimpan satu kata ini dalam hati maka hancurlah semua (pake #eaa gak?). Apapun yang dilakukan seseorang jika didasari dengan kebencian hasilnya tidak akan pernah maksimal.

Ketika kita benci untuk berangkat sekolah/kuliah/kerja maka perasaan dongkol yang akan menyertai, semua yang kita lihat dan jalani akan terasa memuakkan.
Ketika kita benci dengan suatu makanan, maka saat melihat makanan tersebut rasanya ingin melemparnya dengan bom atom biar hancur berkeping-keping.

Begitu pula saat kita membenci seseorang maka apapun yang dilakukan orang tersebut rasanya seperti rongsokan walaupun itu kebaikan. Apalagi saat berpapasan, rasanya bagai duduk di atas kompor.

Seorang tetangga curhat tidak suka dengan ibu anu karena dirinya tidak di undang dalam acara hajatan padahal dia adalah mantan pejabat RT. Merasa dirinya tidak dihargai, tidak di hormati maka terjadilah gencatan senjata dan perang dingin dengan berbalas tidak saling mengundang, tidak saling menyapa, dan saling berbisik-bisik mencari dukungan. Merasa diri paling di-dholimi dan paling benar. Saat seperti itu, nasehat baik pun berasa menelan sekam.

Begitulah kalau segala sesuatu di awali benci, lebay mengalahkan ABG jaman sekarang. Logika kalah dengan perasaan bak sinetron yang kejar tayang.

Jadi pengen nyanyi
 "benci...benci ...benci...tapi rindu jua...
bila kuingat ...(eh, apalagi sih liriknya ya... #pura-pura lupa biar gak ketahuan angkatan berapa)
eh, siapa sih yang nyanyi lagu itu? #mulai minta di gampar
Asli...itu tetangga yang suka nyetel...lama-lama kan jadi hapal #eh

Jumat, 13 Mei 2016

Sosmed dan Sosial Media dan Sosmed

Teringat, dulu (sekitar tahun 2000an), saat sosial media belum menjadi trend, saat sosial media belum menjadi gaya hidup, saat semua orang menggunakan handphone hanya untuk SMS atau menelepon saja. Karena untuk mengakses internet hanya ada dua pilihan, pasang internet di rumah (baik yang langganan ataupun dial up), atau pergi ke warnet.

Untuk pilihan kedua, yang saya alami, sebagai anak kost & mahasiswi pas-pasan harus benar-benar mengatur anggaran untuk ke warnet karena jika tidak, bobol biaya hidup sebulan karena saking asiknya berseluncur di dunia maya. Rata-rata aktivitas yang dilakukan di warnet cek email dan chatting. selebihnya, main game dan browsing.

Tahun-tahun selanjutnya mulailah merebak trend blog, semua orang yang hobby menulis  mengeluarkan semua uneg-uneg dan bakat terpendamnya menjadi sebuah tulisan baik itu berupa laporan, artikel, ataupun cerita pendek dimana data-datanya di peroleh dari hasil wawancara pribadi, literatur, observasi, ataupun kunjungan. Tentunya di lengkapi dengan foto dokumentasi pribadi yang diambil menggunakan kamera digital baik kamera saku ataupun SLR. Semua bisa jadi wartawan, semua bisa jadi penulis, sepertinya jargon itu yang cocok. Termasuk saya, korban trend blog. Dulu, saya menggunakan multiply untuk berbagi cerita, berbagi informasi dan sebagai aktualisasi diri atau istilah lainnya bernarsis ria. Senang, karena di sana mendapatkan teman-teman baru dan saling berkunjung di dunia maya secara berkala. Sepertinya tidak ada kejadian gara-gara edit foto terjadi percekcokan, atau saling bully membully, saling menjatuhkan, saling sepak, saling kritik tanpa mengkaji diri, dan lain-lain dan lain-lain.

Sekarang, semua orang mudah untuk mengaktualisasi diri dengan hanya bermodalkan HP pintar, tinggal jepret kemudian upload. Kesal sedikit, tinggal tulis, upload. Benci si A, tulis, upload. Senang sama si B, tulis, upload. Lagi makan dimana, jepret, upload. Berlibur di kutub utara, jepret, upload.

Dan semua orang bebas berkomentar, baik komentar pedas ataupun komentar manis sehingga munculah dua kubu seperti jaman perang dingin antara blok barat dan blok timur, lovers dan haters.
Entahlah, sepertinya masalah perbedaan di jaman sekarang sangat sensitif. Untuk menahan diri rasanya susah sekali seperti susahnya menelan permen karet. Atau jangan-jangan kesalahan ada di smartphone yang tidak memberikan jaminan kepada penggunanya untuk sepintar dirinya. Atau jangan-jangan salah programmer kenapa begitu hebat menciptakan aplikasi yang mempermudah hidup manusia sekaligus menyulitkan untuk berkomunikasi yang baik dan ramah.
Jawabannya adalah entah...di negara antah berantah...

Kamis, 17 Januari 2013

Hujan Telah Tiba!

Sekitar bulan oktober, kalau saya tidak salah, hujan yang di tunggu-tunggu belum datang juga (khususnya di daerah Bandung, kabupaten). Panas menyengat, debu yang tebal, air yang mulai mengering membuat beberapa orang atau mungkin setiap orang merasa jengah dengan keadaan, ingin segera turun hujan. Dan, mungkin ada beberapa orang yang mengutuk Tuhan atas kemarau yang berkepanjangan. Dan, saat hujan turun semua bersuka cita, karena panas yang menyengat akan tergantikan dengan hawa yang segar. Bau tanah kering yang tersiram air sungguh terasa wangi bagi saya.

Sekarang, saat hujan datang terus menerus, setiap orang mulai mengeluh dan bahkan ada yang mencaci maki. Dengan berbagai alasan, kehujanan, pakaian tidak kering, sampai ke masalah banjir. Dan, lagi-lagi ada juga yang mengutuk Tuhan atas pemberian hujan.

Kemudian saya merenung, sebetulnya apa keinginan manusia ini? tidak ada rasa puas dan kesyukuran.

Mengenai masalah banjir, semua orang ikut berbicara, saling menyalahkan, saling mengutuk dan sebagainya tanpa mengoreksi pribadi masing-masing. Saya bukan aktivis lingkungan, tapi untuk lingkungan kecil dimana saya tinggal saya berusaha menjaganya tetap bersih. Saya membiasakan diri dan anak saya Tidak Membuang Sampah Sembarangan dimanapun berada, memisahkan sampah rumah tangga dengan sampah plastik, dan mengurangi volume sampah rumah tangga dengan seminim mungkin mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang-buang makanan.
Dan... tidak membiarkan halaman rumah di tanami tembok & beton. Memberikan ruang untuk serapan air dan tanaman sepertinya lebih manusiawi daripada menanam beton.

Sabtu, 01 September 2012

Curcol

Sedang sedih ...
Bagaimana tidak, blog yang pertama yang diseriusi, di rawat, di tengok, di sapuin dari sampah-sampah, di beresin...eeeh...tiba-tiba mau di gusur. Haduh...haduh...dimana harus menyimpan semua postingan yang gak jelas, yang ngasal, yang gak berguna dan sayang kalau dibuang. Apakah di taruh di sini saja *pandangan memelas pada blogspot*...boleh yaaa .... *kedip-kedip*

Katanya sih harus siap-siap pindahan sebelum 1 desember 2012. Selamat tinggal rumah lamaku di multiply...dadah...pasti aku selalu merindukanmu

Taman Lalu Lintas Bandung

Taman lalu lintas terletak di Jl. Belitung No. 1 Bandung. Taman lalu lintas Bandung dikenal juga dengan nama taman Ade Irma Suryani Nasution yang pada zaman Belanda bernama Insulinde Park (Taman Nusantara). Masuk taman ini termasuk murah meriah, hanya  dengan merogoh saku Rp. 4000 saja untuk usia 2 tahun keatas. Dengan kata lain usia di bawah 2 tahun tidak dikenakan biaya.

Saat memasuki  area taman kita sudah di sambut dengan rimbunnya pepohonan dan beberapa rambu-rambu lalu lintas sesuai dengan visi dan misinya yaitu memberikan pendidikan keamanan dan ketertiban lalu lintas kepada anak-anak agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Udara yang segar, lahan yang luas, adalah tempat yang cocok sebagai arena bermain anak-anak. Berlarian dengan bebas, memanjat, main ayunan, jungkat-jungkit dengan fasilitas gratis yang telah disediakan.

Beberapa fasilitas bermain harus membayar lagi dengan kisaran Rp.4000 seperti kereta api, mandi bola, kolam renang, dan sewa sepeda.


Harga tersebut termasuk murah jika dibandingkan dengan kenyamanan yang kita peroleh. Fasilitas umum seperti kamar kecil dan mushola pun cukup memadai.

Taman lalu lintas bisa dipilih sebagai arena rekreasi keluarga yang murah meriah. Dengan  hamparan rumputnya yang hijau kita bisa menggelar tikar  untuk makan dan bersenda gurau bersama keluarga.


Selasa, 08 Mei 2012

Lirik Dari Sang Pengamen

Pagi-pagi seorang pengamen sudah mulai melantunkan tembangnya
"apa artinya malam minggu bagi orang yang tidak mampu,  mau ke pesta tak ada uang, lebih baik begadang sambil berdendang, yang penting hati senang....."

Jujur saja mendengar lirik tersebut sedikit ilfill dibuatnya. Lirik tersebut menggambarkan seseorang yang hanya ingin bersenang-senang tanpa mau berusaha. Kenapa malam minggu harus identik dengan pesta pora? kalau memang merasa tidak mampu dalam masalah ekonomi kenapa tidak mau bekerja? Bukankah dalam agama juga diajarkan "Qod aflahal mujhid muzhid - sungguh beruntung orang yang hemat dan mau bekerja keras".

Saya jadi berpikir, apakah karakteristik orang Indonesia seperti itu sehingga tercipta lirik lagu seperti di atas yang selalu mengharapkan belas kasihan orang, berisi keluhan dsb.

Banyak yang mengaku tidak mampu, tetapi dalam keseharian pekerjaannya hanya diam saja, menjemur badan, ngobrol ngalor ngidul, main gapleh dll. Padahal di sisi lain ada yang bekerja keras banting tulang, memanfaatkan lahan dengan bercocok tanam, berniaga, bekerja sebagai kuli, tetapi tanpa mengeluh atau berucap bahwa "saya miskin".

Ada satu contoh yang membuat saya terharu. Seorang Ibu dengan 12 anak yang ditinggal suaminya tanpa ada uang pensiun berhubung suaminya hanya seorang supir truk. Tetapi, beliau tidak pernah meminta belas kasihan. Pagi-pagi sang Ibu bercocok tanam, siangnya bekerja paruh waktu memasang mute kerudung & baju. Dan, saya lihat anak-anaknya tidak ada yang kelaparan.

Tidak ada sesuatu yang instant dalam hidup ini, semuanya harus dilakukan dengan berusaha dan berdoa. Mie instant aja harus ada usaha untuk memasaknya ...

Selasa, 21 Februari 2012

Serba Impor

Beberapa bulan yang lalu sempat terjadi percakapan dengan teman saya tentang hobby pemerintah mengimpor barang. Sampai untuk bumbu sekelas garam pun harus impor. Teman saya yang dengan nada berapi-api menyebutkan bahwa pemerintah melakukan hal tersebut hanya untuk mempermudah saja. Bayangkan jika harus membina para petani garam ataupun petani lainnya...pasti di butuhkan biaya yang tak sedikit. Dengan jalan impor kebutuhan langsung tersedia, pemerintah pun bisa menerima bagian pajak impor...mudah kan?

Saya menambahkan bahwa mungkin juga kultur sebagian orang Indonesia yang bangga dengan produk asing dengan menganggap produk impor kualitasnya lebih bagus dari produk lokal.

Kemudian, suatu hari saya ke pasar tradisional, belanja beberapa bumbu yang dibutuhkan. Oleh penjualnya, yang memang langganan, saya ditawari jahe impor yang bentuknya besar dan kondisinya bersih. Saya tanya impor dari mana? Dia jawab Cina. Saya langsung geleng kepala dan memilih jahe lokal yang harganya lebih mahal, bentuknya lebih kecil, dan  masih kotor oleh tanah. Tapi, penjualnya juga mengakui jahe impor tersebut kurang pedas(hangat) dibanding dengan produk lokal. Yang jelas saya pernah coba jahe impor tersebut wanginya  gak begitu greget.

Kemudian di lain waktu saya membeli celana panjang yang kebetulan sedang diskon (modis = modal diskon). Setelah ada yang cocok dan pas langsung saya bayar. Di rumah, saya iseng-iseng lihat merk dan atribut yang ada, ternyata di sana di tulis "Made in Cina  di impor oleh...bla..bla..bla"...Whatt!! Celana panjang biasa seperti ini saja harus impooor??!!!

Dilain waktu, saat jalan-jalan dengan suami melihat-lihat alat-alat rumah tangga, suami tertarik dengan kap lampu. Saat melihat label harga dan keterangan produknya saya langsung berteriak "weks...kaya gini juga harus impor dari Cina? memang orang Indonesia gak bisa bikin sendiri?"
Suami cuma bisa nyengir dan bilang "Lihat modelnya aja, bikin sendiri juga bisa, cuma harus cari bahan yang tepat".

Kesimpulannya : pasar dibanjiri produk impor, kapan kita bisa mandiri?



Kamis, 29 September 2011

Jumlah Harimau Sumatra tinggal 400 ekor!

Liputan6.com, Pekanbaru: Hutan tanaman industri memang menghasilkan uang, tapi aktivitas perambahan hutan mereka harganya amat sangat mahal. Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) masuk dalam harga itu, karena jumlahnya tinggal 400 saja di habitatnya.

"Semakin hari jumlahnya semakin sedikit, karena perambahan hutan itu. Perusahaan semata-mata hanya memikirkan nilai ekonomis, tanpa memikirkan dampak dan akibatnya ke depan" kata Koordinator Kampanye Hutan Greenpeace Rusmadya di Pekanbaru, Riau, Kamis (29/9).

Harimau bali (Panthera tigris balica) dan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) telah punah sejak puluhan tahun lalu karena habitatnya sudah dirambah. Harimau bali--harimau terkecil tubuhnya--terakhir yang difoto terjadi pada 1938, itupun dalam keadaan mati. "Jadi kalau tempat tinggalnya setiap hari dihancurkan, mau ke mana lagi," ujar Rusmadya.

Jika terancam dan kekurangan binatang mangsa karena habitat asli rusak atau punah, harimau kelakuannya jadi ekstrim. Mereka masuk perkampungan penduduk dan menyerang manusia. Yang menjadi korban perambahan hutan oleh perusahaan HTI itu adalah masyarakat biasa.

"Akibat ulah perusahaan HTI yang tidak bertanggung jawab yang tidak memikirkan adat dan peraturan, yang menjadi korban masyarakat kita sendiri yang berkonflik dengan harimau," ungkapnya.

Karena itu, kata dia, hendaknya perusahaan hutan tanaman industri secepatnya menghentikan aktivitas perambahan liarnya, karena kalau masih diteruskan sangat buruk akibatnya. "Yang perlu diingat hutan merupakan sosok yang suci dan sakral menurut nenek moyang kita. Jadi jika kita merusak hutan sama halnya kita merusak adat dan kepercayaan nenek moyang kita yang dulu" kata Rusmadya.(ANS/Ant)

Minggu, 25 September 2011

Braga Festival 2011



Braga festival diselenggarakan 3 hari dari hari jumat (23-9-2011) sampai dengan hari minggu(25-9-2011) dan saya mendatangi bragafest pada hari sabtu sore.

Mengambil jalan masuk melalui permulaan jl.Braga, sebelah museum KAA (Konferensi Asia-Afrika) dan tentunya jalan sudah macet dan parkir sudah penuh yang berakibat harus menunggu dengan sabar mudah-mudahan ada yang pulang.



Pada Bragafest kali ini berharap bisa menemukan sesuatu yang unik, yang lain dari biasanya. Tapi,ternyata biasa-biasa saja (penilaian subjektif).
Setelah mengelilingi seluruh kawasan Bragafest (sepanjang jalan braga dan jl. cikapundung) dan memasuki museum KAA, akhirnya kita pulang lagi. Jadi kalau ditanya kesannya, saya akan jawab "Ya, begitulah"

Sabtu, 17 September 2011

Pelebaran Jalan

Di atas motor, lagi macet.

+ : kayanya bakal ada pelebaran jalan
-  : masa sih? daerah sini susah mau lebarin jalan...tuh... bangunan-bangunan juga udah pada mepet gitu.
+ : tuuh... (nunjuk ke sebrang jalan yang sudah ada galian)
-  : eeeh...beneran gitu? bukan, ah...paling galian kabel
+ : lihat aja ntar

(saat  motor melaju ternyata daerah bawah juga sudah mulai di congkel dan dibersihkan )

-  : jalan di lebarin...teruus... trotoar dan pohon hijau sepanjang jalan mau dikemanain? tambah gersang aja... tiap hari cuma menghisap asap
+ : (diam)
- : harusnya bukan jalan yang terus dilebarin, tapi memikirkan bagaimana mengurangi jumlah kendaraan yang terus meningkat sepanjang tahun (ngoceh sendiri)

Jumat, 16 September 2011

Cerpen Mini

gosong


tinggal satu lagi musuh yang harus dijatuhkan,tercium aroma tak sedap dari dapur.

ingus


anak kecil itu mencoba meraih dengan ujung lidahnya, sesuatu yang jatuh dari lubang hidungnya

cantik


+ :cantik yaa,Pa.. (memperlihatkan sebuah gaun)
- :iya,cantik sekali (memperhatikan pramuniaga)

minggat


anak :pokoknya kalau gak boleh pacaran sama Dodo, mending minggat deh
ibu :sudah punya bekal buat minggatnya?

Jumat, 24 Juni 2011

Selamat Jalan Sahabat

Mas Chandra (Echan) pertama kenal waktu ketemu mas Olie untuk kedua kalinya di hotel Sawunggaling, Bandung. Orangnya  ramah dan enak diajak ngobrol. Suka ngeledekin sekaligus memberi masukan. Dia menggeluti bidang fotografi, seseringnya fotoin model. Setelah pertemuan tersebut selanjutnya kontak lewat dunia maya saja lewat multiply.

Beberapa bulan berselang Mas Echan menulis di guestbook, setelah lama gak pernah komentar di salah satu postingan saya :
matajiwaku wrote on May 2, '10
fit lo ada facebook gak? add fb gue ya: echanphotographer@yahoo.com

Langsung saja saya add, dan ternyata mas Echan lebih exist di fb di banding mp dan juga Mas Echan yang dulu pertama kali bertemu masih berstatus single sekarang sudah berstatus married. Kabar yang membahagiakan.

Tapi, kabar yang mengejutkan baru tadi saya terima. Mas Echan yang selalu riang, selalu ramah dan jauh dari angkuh telah pergi untuk selamanya menyisakan kenangan bagi semua yang mengenalnya. Perkenalan kami begitu singkat, tapi sosok mas Echan bisa menjadi sahabat bagi kami.
Selamat jalan mas Edi Chandra (20 desember 1978 - 13 juni 2011) semoga bahagia disana.
.

Selasa, 21 Juni 2011

Sarapan Pagi Roti Sumbu

Dari minggu kemarin gak jadi-jadi mau posting ini, banyak gangguan sana sini termasuk sinkronisasi otak yang kadang-kadang tak sejalan :P.

Gara-gara dikasih lihat sama mbak Evia foto roti sumbu alias singkong goreng akhirnya jadi ngeces. Besoknya langsung deh  beli singkong ke pasar terus coba bikin yang kaya di foto, tentunya dengan sedikit tips dari mbak Evia. Maklum, jarang ngolah singkong (sebuah pembelaan, padahal gak bisa masak ..hehehe).

Singkong di potong-potong, di kukus terus di ungkeb semaleman pake bumbu ketumbar, garam, dan bawang putih. Terus di goreng, hasilnya kaya gini,nih.


Di makan hangat-hangat plus teh manis jadi sarapan pagi. Tapi, ternyata singkong goreng ini gak dilirik sama anak saya (tega banget nih, padahal emaknya cape-cape bikin). Akhirnya, sisa singkong yang belum di goreng saya coba potong kecil-kecil kaya keripik. Eh, dia doyan. Mungkin anak-anak lebih suka ukuran kecil kali ya :D.

Thx mbak Evia, akhirnya gara-gara lihat foto saya mau ngolah singkong...hehehehe

Sabtu, 11 Juni 2011

Penjara Banceuy-Sekarang

Setelah membaca buku "Wajah Bandung Tempo Dulu"-nya Haryanto Kunto, salah satu yang ingin saya lihat adalah bekas penjara Banceuy yang disebutkan dalam buku telah dihancurkan dan yang tertinggal hanya kamar tahanan no.5 bekas Bung Karno.

Akhirnya kesempatan itu datang dengan tidak disengaja, karena:
  1. Kebetulan waktu itu saya mengikuti pelatihan penulis/pengarang bahasa sunda di Jl. Naripan 9 (Gedung YPK-Yayasan Pusat Kebudayaan), yg posisinya dekat dengan jl. Braga & Banceuy
  2. Demi sebuah kata 'penghematan' (hemat ongkos), saya dan kawan jalan kaki melewati Jl. Banceuy ke arah Alun-alun Bandung, setelah pelatihan selesai.
    Saya mengutarakan niat  untuk melihat bekas penjara tersebut yang ternyata di-amini oleh kawan saya.

Saat tiba di komplek toko, saya melihat ada sebuah bangunan seperti penjara yang terletak dipinggir Jl. Banceuy (gambar di bawah ini). Langsung saja saya mengeluarkan kamera saku dan jeprat-jepret memotret, sambil bilang dengan yakinnya kepada kawan saya bahwa itulah sisa penjara Banceuy (sotoy mode : on).


Ternyata, kawan saya tidak percaya dengan apa yang saya katakan (maklum kawan saya ini sering dikibulin). Tanpa basa-basi dia langsung bertanya pada seorang Ibu penjual kaki lima. Dan, dengan suara keras Ibu tersebut berkata bahwa yang saya foto bukan penjara Banceuy. Karena penjara Banceuy berada di dalam komplek pertokoan. Arah lurus dari bangunan itu, kemudian belok kanan.

Malu? nggak dong ...masa malu. Saya bilang saja dengan santai  bahwa bangunan tersebut sepertinya bekas tempat penjaga, semacam pintu gerbang gitu. Kalau disebut hanya bangunan biasa, kenapa harus dipagar dengan rantai seperti itu (sebuah pembelaan...hehehe)


Nah, ini dia kamar tahanan bekas Bung Karno. kondisinya masih bagus, hanya didalamnya kurang perawatan (terdapat sampah) dan bekas coretan. Entah siapa pelakunya, mungkin sang pelaku belum bisa menghargai sejarah.


Di belakang kamar tahanan terdapat sebuah tugu atau entahlah, tidak ada keterangan tentang bangunan ini dan tidak ada sumber yang bisa ditanya (habis ga ada siapa-siapa, kecuali kami berdua).


Tulisan ini saya tulis juga di sini

Jumat, 20 Mei 2011

Nasionalisme

"kalau udh sukses diluar negri,knp kok mau pulang ke indo ya?*kl aku,ogah deh..(efek ntn kick andy)"
Itu adalah sebuah status dari seorang teman di facebook. Kemudian saya balas dengan singkat "klo rasa nasionalis-nya hilang, mungkin gak akan pernah pulang  &menjadi WNA :D"

Jujur saja saya gak setuju dengan pendapatnya, karena :

  1. Kondisi Indonesia sekarang memang kacau balau, dalam artian merosotnya kepercayaan kepada elite politik yang semakin menjadi-jadi dari hari ke hari.
  2. Merosotnya kepercayaan kepada elite politik dikarenakan banyak kasus yang tak terselesaikan, melonjaknya harga barang, meningkatnya pengangguran, perolehan pendapatan yang kadang tak seimbang dengan pengeluaran, dan masalah-masalah lainnya.
  3. Orang-orang Indonesia yang belajar ataupun bekerja di Luar Negeri biasanya bukan karena faktor benci dengan negaranya, tapi karena sebuah pilihan. Mungkin di negeri ini wadah untuk orang-orang pintar, yang kompeten, dan sebagainya belum tersedia. Sehingga saat ada tawaran untuk ke sana, dengan fasilitas yang menjanjikan, kenapa tidak? Tapi, saya yakin rasa nasionalisme mereka meskipun di negara asing tetap ada kecuali yang memang ingin pindah kewarganegaraan. 
Pernah membaca orang Indonesia(INA) yang terpaksa menjadi warga negara Rusia. Karena saat Beliau mengikuti pertukaran pelajar kesana (tahun 60an) terjadi kasus Gestapu di INA, suasana kacau, dan saat akan pulang ke INA passport beliau ditolak/tidak valid, dan akhirnya selama puluhan tahun tidak bisa pulang sehingga mau tidak mau Beliau harus menjadi WNA. Meskipun sekarang telah bergelar professor & sukses, tapi dalam hati kecilnya tetap merasa sedih karena tujuan mengikuti pertukaran pelajar tersebut ingin menyumbangkan ilmu demi membangun negeri ini.

Kesimpulannya, menurut saya, jika rasa nasionalisme terkikis, maka yang tertinggal hanya rasa egois

Rabu, 11 Mei 2011

Penjara Banceuy - sekarang

Setelah membaca buku "Wajah Bandung Tempo Dulu"-nya Haryanto Kunto, yang ingin saya lihat adalah bekas penjara Banceuy yang disebutkan dalam buku telah dihancurkan dan yang tertinggal hanya kamar tahanan no.5 bekas Bung Karno.

Akhirnya kesempatan itu datang dengan tidak disengaja karena saya dan kawan terpaksa harus jalan kaki melewati Banceuy dari arah Braga, demi sebuah kata 'penghematan'. Saya mengutarakan niat  untuk melihat bekas penjara tersebut yang ternyata di-amini oleh kawan saya.

Saat tiba di komplek toko, saya melihat ada sebuah bangunan seperti penjara yang terletak dipinggir Jl. Banceuy (gambar di bawah ini). Langsung saja saya mengeluarkan kamera saku dan jeprat-jepret memotret, sambil bilang dengan yakinnya kepada kawan saya bahwa itulah sisa penjara Banceuy.


Ternyata, kawan saya tidak percaya dengan apa yang saya katakan. Tanpa basa-basi dia langsung bertanya pada seorang Ibu penjual kaki lima. Dan, dengan suara keras Ibu tersebut berkata bahwa yang saya foto bukan penjara Banceuy. Karena penjara Banceuy berada di dalam komplek pertokoan. Arah lurus dari bangunan itu, kemudian belok kanan.

Malu? nggak dong ...masa malu. Saya bilang saja dengan santai  bahwa bangunan tersebut sepertinya bekas tempat penjaga, semacam pintu gerbang gitu. Kalau disebut hanya bangunan biasa, kenapa harus dipagar dengan rantai seperti itu (sebuah pembelaan...hehehe)


Nah, ini dia kamar tahanan bekas Bung Karno. kondisinya masih bagus, hanya didalamnya kurang perawatan (terdapat sampah) dan bekas coretan. Entah siapa pelakunya, mungkin sang pelaku belum bisa menghargai sejarah.





Di belakang kamar tahanan terdapat sebuah tugu atau entahlah, tidak ada keterangan tentang bangunan ini dan tidak ada sumber yang bisa ditanya.